Tampilkan postingan dengan label owner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label owner. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Oktober 2017

BERMODAL DARI UANG SAKU BISA MERAUP 35JT/BULAN

Membangun bisnis hingga memiliki pendapatan yang besar dan mampu membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang, menjadi harapan dan keinginan dari pelaku usaha.Tidak terkecuali bagi Intan Hapsari (24).Dara cantik lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten ini, kini tengah menikmati menjalankan bisnis jual beli hijab dengan merek Agniya.


Intan mampu memproduksi hijab 2.000 pieces (pcs) dalam satu bulan produksi dengan menggunakan konveksi dan penjahit sendiri.Tidak heran jika pada Lebaran kemarin, ia mampu meraih omzet hingga Rp48 juta, dengan penjualan hingga 5.000 pcs.

Bagaimana kisah Intan meraih suksesnya?

Intan berkisah, awal perjalan bisnisnya dimulai semasa dirinya masih menempuh dunia pendidikan di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten beberapa waktu lalu.Menurut Intan, saat mengenyam bangku kuliah dirinya mendapatkan uang saku dari orang tuanya untuk keperluan kuliah dan biaya hidup semasa kuliah.

"Awal mula saya usaha hijab itu saat saya kuliah di Serang Banten, saya dikasih uang saku bulanan dan merasa sayang ketika melihat uang saku didiamkan saja enggak digunain," ungkap Intan saat berbincang dengan Kompas.com, Rabu malam (9/8/2017).


Akibat rasa sayang pada uang saku tersebut, Intan tercetus ide untuk menggunakan sebagian uang sakunya untuk menjalankan bisnis hijab dari nol.Ia bercerita, sempat terlintas dalam pikirannya gengsi menjalankan usaha.Ia juga pernah merasa ragu untuk memulai usaha, karena takut pandangan negatif dari rekan-rekan sejawat yang menilai "jadi mahasiswa kok dagang".

"Dulu modal awal usaha itu Rp250.000. Saya memilih bisnis hijab karena modal awalnya tidak terlalu besar, dan produk hijab banyak digunakan oleh wanita maupun mahasiswa di kampus dan itu menjadi peluang usaha buat saya," papar Intan.

Pada tahap awal Intan menjalankan usahanya belum mampu memproduksi hijab secara mandiri karena keterbatasan modal dan kendala lainnya.Hingga akhirnya, ia mendapatkan bantuan dari pemerintah melalui Program Wirausaha Pemula (WP) Kementerian Koperasi dan UKM.


"Dapat informasi dari kakak bahwa Kementerian Koperasi dan UKM buka program wirausaha pemula pada tahun 2014 kemudian saya kirim proposal dan terpilih mendapatkan biaya Rp14 juta," ujar Intan.

Intan pun mendapatkan dana segar untuk mengembangkan usahanya. Dia kemudian melabeli usahanya dengan merek "Agniya" dan melakukan produksi secara mandiri.

"Saya menjalankan usaha dengan apa yang saya suka artinya tantangannya capeknya, lelahnya dan saya happy aja. Kalau lagi suntuk, lagi jenuh, kebahagiaan saya adalah produksi (hijab)," jelasnya.

Kini Intan mampu memproduksi hijab 2.000 pcs hijab dalam satu bulan produksi dengan menggunakan konveksi dan penjahit sendiri.

Dara kelahiran Jakarta, 13 Mei 1993 ini tak menjelaskan saat ini berapa perkerja atau penjahit yang bekerja sama dengan Agniya.

"Dari awal pembelinya hanya teman-teman kuliah atau teman-teman dekat saja, paling satu bulan lakunya 12 pcs, kemudian naik 17 pcs dan naik lagi menjadi 20 pcs dan sampai sekarang naik sampai ribuan per bulan, Lebaran kemarin bisa sampai 5.000 pcs dan keuntungan Rp48 juta," kata Intan.

Menurunt Intan, peningkatan penjualan disebabkan oleh strategi yang dirinya terapkan dengan pemasaran online dan menggandeng reseller di berbagai kota, antara lain di Cilegon, Rangkasbitung, Serang, Serpong, Bogor, Bekasi, bahkan di Pontianak.


"Sekarang menjalin kerja sama dengan banyak reseller dan juga memiliki penjahit sendiri. Sekarang paling sedikit omzetnya Rp29 juta per bulan, selebihnya stabil diangka Rp30 sampai 35 juta," ungkap Intan.

Namun demikian, saat ini Intan tak merasa berpuas diri atas pencapaian usaha yang telah dirinya geluti sejak masa kuliah.Intan berniat menembangkan usahanya dengan membuka gerai atau toko hijab secara offline.Intan percaya, dengan menjalankan usaha dirinya dapat memberikan kontribusi kepada banyak orang mulai dari reseller, hingga penjahit yang bekerja sama dengan Agniya.


Pramdia Arhando Julianto


Artikel ini sudah tayang di kompas.com dengan judul “Bisnis Hijab Bermodal Uang Saku, Omzet Dara Cantik Ini Kini Rp 35 Juta per Bulan”.


Anda ingin memiliki perubahan hidup 



Hubungi:
Santy Marlina- Konsultan Independen Oriflame
Pin : 546D27CF
SMS : 081219992862

KREATIF,MEMBUAT MAGNET MIRIP PRODUK HARIAN MERAUP 100JT/BULAN

Siapa sangka berbekal ide dan kreatifitas, Marissa, seorang warga asal Bandung kini mampu meraih penghasilan lebih dari Rp100 juta tiap bulannya.Marissa merupakan pengusaha magnet kulkas.Hanya saja, magnet yang dibuatnya berbeda dari magnet-magnet pada umumnya.Magnet yang dibuatnya menyerupai makanan, minuman, perlengkapan mandi, botol berbentuk mini.Seperti bungkus Indomie, Chiki, Pocky, Pepsodent, Molto, Bimoli, dan lain-lain.



Saat ditemui Kompas.com di acara Trade Expo Indonesia 2017, Marissa menceritakan sudah menggeluti usaha magnet kulkas ini selama lima tahun.

"Saya kepikiran bikin magnet ini karena unik saja. Saya pernah lihat miniatur kecil-kecil di Thailand, nah kenapa enggak ada produk kita sendiri? Ya sudah akhirnya coba-coba bikin," kata Marissa, Rabu (11/10/2017).


Marissa membuat kreasi magnet handmade ini melalui art print dengan mencetak dan laminasi.Kesulitannya, dia harus mencocokkan warna magnet yang dibuatnya dengan produk asli.Selain itu, Marissa juga harus mencari pekerja yang terampil dalam membuat magnet ini.Pasalnya, jika magnet ini dibuat tidak rapi, hasilnya juga akan acak-acakan.Awalnya, Marissa membuat sendiri magnet dengan alat ala kadarnya.Pertama kali, dia magnet dengan bentuk Indomie, susu Ultra, dan Chitato.Dalam membuat magnet, Marissa memilih produk yang benar-benar dikenal oleh pasar.

"Pas awal, kami produksi sesuai pesanan saja. Kecuali pas pameran mesti banyak bikin stok," kata Marissa.


Biasanya, lanjut dia, yang memesan magnetnya adalah perusahaan tengah mencari souvenir untuk acara.Setelah itu, usahanya semakin berkembang.Marissa menjajakan produknya dengan mengikuti pameran di Paris Van Java, Bandung.Ternyata, masyarakat merespon baik produknya.Setelah membuat magnet, kini Marissa juga membuat gantungan kunci yang menyerupai produk-produk ternama.

"Sekarang saya sudah punya 15 karyawan yang bekerja di bagian penjualan, pengiriman, customer service online, dan produksi. Saya tambah mesin juga," kata Marissa.

Adapun Marissa menjual produknya dengan mengikuti pameran, menjualnya secara online, dan membuka toko di PVJ.Marissa memberi nama tokonya dengan nama "Ini Kreasi".Dia menyebut, usaha magnet yang serupa dengan usahanya sudah semakin banyak.Hanya saja, Marissa memastikan produknya mirip dengan produk asli.Selain itu, produknya juga dibuat rapi dan tidak terlalu kaku.


"Setiap minggu harus ada produk baru, jadi mesti sering ke supermarket. Misalnya, pas ke supermarket, ternyata sambal ABC ganti label, es krim Magnum juga ganti label, ya kami ikut bikin desain baru, asal sudah dikenal luas di masyarakat," kata perempuan kelahiran 17 Mei 1983 tersebut.


Kini produknya juga diminati masyarakat mancanegara.Meski belum ekspor, namun dia sudah mengirim pesanan ke Malaysia, Brunei Darusalam, Singapura, dan China.Marissa juga kini bisa memproduksi lebih dari puluhan ribu magnet tiap bulannya.Produk yang paling banyak dibeli adalah Indomie, Chitato, Ultra, Teh Kotak.Sedangkan range harga magnet "Ini Kreasi" mulai dari Rp8.000-Rp35.000.

"Omzet per bulan bisa di atas Rp100 juta," kata Marissa.
 

Kurnia Sari Aziza

Artikel ini sudah tayang di kompas.com dengan judul “Usaha Magnet "Indomie", Penghasilan Marissa Lebih Dari Rp 100 Juta Per Bulan”.


Anda ingin memiliki perubahan hidup 



Hubungi:
Santy Marlina- Konsultan Independen Oriflame
Pin : 546D27CF
SMS : 081219992862

Minggu, 26 Maret 2017

KISAH PENDIRI MAICIH



Tak pernah terbayangkan oleh Reza Nurhilman jika perkenalannya dengan seorang nenek tiga tahun lalu menjadi awal kesuksesannya berbisnis. Pemuda 23 tahun ini menceritakan bagaimana ia bisa menemukan resep keripik singkong "setan" Maicih, yang kini menjadi perbincangan hangat di dunia maya dan tenar di kalangan anak muda Bandung.


Sekitar 2008, Reza diajak oleh seorang temannya ke daerah Cimahi dan mencicipi keripik buatan si nenek yang enggan ia sebutkan namanya. "Saya cicipin keripiknya dan memang enak," kata Reza atau biasa disebut Axl, Presiden Keripik Maicih, saat berbincang dengan Tempo di salah satu kafe di Bandung. 

Saat itu bungsu dari tiga bersaudara ini masih bekerja serabutan. Sesekali ia mengikuti pelatihan motivasi sumber daya manusia. Ia belum terpikir akan menggeluti bisnis itu. Baru pada Juni tahun 2009, Axl kembali mengunjungi rumah nenek itu. Ia melihat si nenek hanya membuat keripik pada saat-saat tertentu dan pemasarannya amat terbatas. Terlintas dalam pikirannya untuk membangun usaha menjual keripik.

"Saya menanyakan resep keripik buatannya dan nenek tidak keberatan saya juga membuat keripik dengan resep sama," ia menjelaskan.

Dengan bermodal Rp 15 juta, Axl mulai memproduksi keripik yang diberi merek Maicih sebanyak 50 bungkus per hari. Ia membuat perbedaan tingkat kepedasan dari level 1 hingga level 5. "Saya mulai ngider memasarkan keripik dengan memberikan sampel ke teman, saudara, memanfaatkan Twitter dan Facebook," katanya.




Pada 11 Februari 2010, di Paris Van Java Mall, Bandung, digelar acara trademark market. Kesempatan ini digunakan Axl untuk meluaskan pasar keripik Maicih. Ia merasa terbantu oleh berlangsungnya acara itu. Pasarnya bertambah. "Artis dan para pejabat jadi tahu dan penasaran dengan keripik Maicih," katanya. 

Nama Maicih, kata mahasiswa Manajemen Universitas Maranatha Bandung ini, diambil dari istilah dompet kecil yang suka dipakai ibu-ibu. Nama ini juga mengundang rasa penasaran konsumen karena terdengar nyeleneh. Pemasarannya dibantu oleh teman-temannya di sekolah menengah atas dan saudaranya. Walhasil, peminat keripik Maicih mulai banyak. "Awalnya karena penasaran dengan nama Maicih-nya," ucapnya.

Dalam sebulan, respons atas keripik itu mulai bermunculan. Kebanyakan mengomentari penyedap rasa yang amat dominan. "Saya langsung memperbaikinya karena enggak mau kehilangan pelanggan," ujarnya. Axl juga mulai mengenal selera pelanggan. "Lebih banyak yang suka keripik dengan kepedasan dari level 3 sampai 5," katanya. "Ada juga yang level 10, sangat pedas, tapi itu limited edition, gak diproduksi setiap hari."

Dalam menjalankan usahanya, Axl menerapkan prinsip totalitas, loyalitas, dan sinergi. Ia berharap kepercayaan pelanggan terjaga dan kekompakan tim pemasaran tetap berlangsung. Loyalitas terhadap keripik Maicih ini mendorong mereka membentuk satu komunitas yang bernama Icihers. Komunitas ini kebanyakan perempuan. Mereka amat aktif menyebarkan informasi tentang keripik Maicih.


Axl mengucapkan rasa terima kasihnya kepada kolega, saudara, dan para Icihers yang telah loyal memasarkan keripiknya. "Sehingga semakin banyak orang yang 'tericih-icih' (istilah ketagihan keripik Maicih)," ujarnya. 

Namun bukan berarti perjalanan bisnis Axl selalu berjalan mulus. Pada November tahun 2010, keripik Maicih tidak diproduksi akibat kurangnya alat penggorengan yang masih memakai tungku. "Pelanggan makin banyak tapi kapasitas penggorengan kurang," kata dia. Selama sebulan ia harus memperbaiki tunggu itu.



Saat ini dalam sehari ia bisa memproduksi 2.000 bungkus. "Selalu habis," ujar Axl. Ia berencana akan menambah jumlah produksi mencapai 10 ribu bungkus per hari. Axl, yang berasal dari keluarga ekonomi kurang mampu, tak menyangka usahanya bakal sesukses ini. Saat ini omzet penjualan keripik Maicih dalam sehari mencapai Rp 22 juta dan dalam sebulan bisa mencapai 7 milyar. Harga keripik dibanderol antara Rp 11 ribu dan Rp 15 ribu untuk luar Bandung.


Pelanggan di luar Bandung juga bisa memesan Maicih melalui sistem online di ngiderngiler.com. Dalam waktu dekat, Axl juga akan membuat wardrobe Maicih berupa kaus dan merchandise. "Saya ingin Maicih menjadi ciri khas Jajanan Bandung," kata dia.

Sumber:

Mulia,inspirasi."Kisah sukses Reza nurhilman,sang Presiden keripik maicih."http://inspirasisuksesmulia.blogspot.co.id/2013/01/kisah-sukses-reza-nurhilman-sang.html (Diakses 22 maret 2017)


Jika anda ingin perubahan hidup



 Hubungi:
Santy Marlina- Konsultan Independen Oriflame
Pin : 
546D27CF
SMS : 081219992862